Kupu Keramik


Welcome bin wilujeng sumping di blog Kupu Keramik alias B
utterfly Ceramic. Blog ini berisi curhat ataupun sharing teknis tentang keramik art dan craft
juga hal-hal lain berkaitan dengan keseharian penulis. Bila ada uneg2 mangga pamiarsa komentaran secara blak-blakan..any comment I will accept openly..

Best,

Natas Setiabudhi

Wednesday, March 5, 2014

The Angled Wheel Throwing, Bayat, Indonesia





A few weeks ago, around 27th February until 1st March 2014, the students and lecturers of Craft Department of Bandung Institute of Technology went to ceramic center of some area in province of Central Java  and D.I. Yogyakarta, Indonesia. Actually there was three ceramic center that we were visited, i.e. Klampok Banjarnegara (Central Java), Kasongan (D.I. Yogyakarta), and Bayat, Klaten (Central Java). All of them use earthenware clay, but they have own character. Banjarnegara clay are harder and finer than others therefore used for utility wares. Banjanegara is well known with the teapot set (teapot, cup, and saucer), just naked clay and colored with slip and burnished.

Among the ceramic centers that we were visited, the most amazing one were Bayat, Klaten. The uniqueness of this center are the way of how they produce the wares. The conventional wheel throwing that we know, the structure is made of woods or steal and the position of  top bat is perpendicular. If you see carefully the picture above the position of top bat is angled and for rotating squeeze the bamboo over and over by left foot.  As you see the pictures, the students were learning how to make a pot by that wheel. The others uniqueness are the maker of pot all of them are women and they could make a pot faster than by conventional ones. But the most proud as Indonesian, the tool is only in Indonesia, fabulous! 

Sunday, February 9, 2014

Aplikasi Terra Sigillata

Brushing the ware with Terra Sig.
Burnishing 


Terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara benda yang sudah diberi terra sigillata dan yang belum. Benda menjadi sedikit berkilap apabila sudah diberi terra sigillata dan digosok permukaannya. Alat gosoknya bisa berupa plastik tipis atau kantong 'kresek' biasa. Penggosokan dilakukan secara berulang-ulang sampai mendapatkan kemengkilapan yang diinginkan. Dalam keramik teknik ini dinamakan burnish, dimana selain fungsinya membuat benda menjadi sedikit kilap juga menutup pori-pori tanah liat sehingga bisa dipakai untuk menampung air.

Terra sigillata bisa diaplikasikan dengan berbagai cara, seperti teknik kuas, teknik semprot, atau teknik celup. Di bawah ini merupakan aplikasi teknik kuas. Pengulasan dimulai dari atas bodi kemudian perlahan bergeser sampai bawah. Penggosokan harus sesegera mungkin, sesaat setelah cairan terra sigillata meresap ke dalam bodi. Untuk mendapatkan hasil kilap yang optimal, pengulasan dan penggosokan dilakukan 3 sampai 4 kali.

Bodi yang akan diaplikasikan terra sigillata sebaiknya jangan terlalu tipis, khususnya untuk bodi bone dry. Karena pada saat diberi cairan terra sigillata bodi menjadi basah, sehingga beresiko menjadi retak. Paling tidak ketebalannya antara 6 sampai 8 milimeter. Selain itu permukaan bodi yang dipakai untuk aplikasi terra sigillata harus benar-benar rata. Kalau bergelombang hasilnya tidak akan optimal karena akan menemui kesulitan pada saat melakukan penggosokan (burnishing). Untuk meratakan / menjadi tidak bergelombang permukaannya,  bisa menggunakan rib fiber pada saat memutar atau melakukan trimming


Di bawah ini merupakan beberapa contoh keramik yang sudah diberi terra sigillata. Terra sigillata merupakan aplikasi untuk jenis tanah liat bakaran rendah (900-1050 C), jika dibakar lebih tinggi efek kilapnya akan hilang. Jenis tanah liat Plered, Purwakarta dan Cipeundeuy, Nagreg cocok untuk aplikasi ini.







Naked Raku


Ini adalah detail dari salah satu karya yang dipamerkan di galeri NAS, Jakarta dalam rangka Jakarta Contemporary Ceramic Biennale #1. Karya ini dibuat oleh seniman-seniman yang tergabung di Gaya Ceramic and Design, Bali (Hillary Kane, Marcello Massoni, dan Michela Foppiani). Disini saya ingin memperlihatkan seperti apa naked raku itu. Pada foto terlihat karakter raku-nya lebih simpel dari raku pada umumnya. Pada raku konvensional karakternya warnanya sangat leleh, kehitaman dan berkilauan. Sementara pada naked raku, karakternya lebih dingin dan terdapatnya retak-retak yang teratur.




Biskuit untuk membuat naked raku sebaiknya diburnish terlebih dulu. Kemudian bendanya disemprotkan slip. Fungsi slip adalah menghalangi atau mencegah glasir meleleh di atas permukaan benda. Setelah itu baru glasir raku disemprotkan tipis di atas slip. Setelah glasirnya matang/leleh, keluarkan dari dalam tungku dan masukan ke dalam tong galvanize yang berisi material organik kering (serbuk gergaji, dedaunan, atau kertas koran) dan tutup dengan rapat. Setelah dikeluarkan dari tong,  semprotkan atau kucuri dengan air sehingga glasirnya menjadi terkelupas. Hasilnya adalah tercipta permukaan benda halus putih dengan retak-retak hitam yang menakjubkan.     


Sunday, February 2, 2014

Mihrab



This was my commission work for mosque. If you see the ceramic mural clearly, there are Allah and Muhammad among the modules. I use stoneware clay which fired to 1230 degree Celsius. Totally modules are over 600 modules. The size each module Long: 10 cm. Width: 10 cm. Height: 5-8 cm. The area modules for mihrab are Width:  Height: 400 cm. Width: 580 cm.       

Thursday, January 30, 2014

Bali Trip #2

                        

                        

                        

Pada tahun 2009 saya berkesempatan untuk mengunjungi pulau dewata, Bali. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengunjungi teman, studio, sentra keramik, dan galeri yang ada di Bali. Lokasi galeri dan workshop teman saya berada di daerah Canggu, persis di depan jalan raya dimana sekelilingnya masih terhampar luas sawah-sawah. Foto di atas memperlihatkan beberapa sudut galerinya. Produknya kebanyakan hasil dari teknik putar dan slip casting. Tempat workshop dan galerinya bersebelahan, hanya dibatasi oleh partisi. Kesehariannya ia memproduksi benda-benda tableware. Sedang gaya berkeseniannya cenderung ke arah object. Selain itu, ia juga mengerjakan produk aksesoris keramik, seperti anting-anting dan kalung.     

Selain ke teman, saya juga mengunjungi sentra kerajinan Keramik Pejaten (keramik bakaran tinggi) dan gerabah hias di Pejaten, Tabanan . Sentra gerabah sudah ada sejak dari dulu, sementara keramik bakaran tinggi baru dikenal pada sekitar tahun 1985. Orang pertama yang mengenalkannya adalah Hester Tjebbes, berkewarganegaraan Perancis, kelahiran Belanda. Ia menyarankan kepada pak Tanteri yang merupakan tokoh masyarakat dan pelaku industri saat itu untuk melakukan pengembangan produk keramik selain keramik gerabah (earthenware/keramik bakaran rendah) di desa Pejaten. Ia meyakinkan bahwa dengan adanya material/bahan tanah liat baru (keramik stoneware/bakaran tinggi) bisa menghasilkan nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan keramik gerabah. Selain itu terdapat kekhawatiran terhadap bahan baku gerabah yang semakin menipis karena terjadinya eksplorasi besar-besaran, terutama dalam pembuatan bata merah dan genting. Ini terbukti saat ini sumber tanah liat di sekitar Pejaten sudah habis dan mereka mulai mencari sumber di daerah lain.

Pengenalan material baru ini berdampak terhadap perubahan teknologinya baik infrastruktur maupun teknik pembentukan dan dekorasinya. Tungku bakarnya harus bisa mencapai 1200 derajat celsius, untuk mempercepat produksi dibutuhkan mesin putar, untuk mengolah tanah dibutuhkan mesin ball mill, karena menggunakan tanah liat stoneware maka perlu bahan-bahan glasir, dsb. Teknik pembentukannya pun semakin berkembang dengan adanya alat-alat di atas, begitu pun dengan teknik dekorasinya. Tema estetik dekorasinya lebih ke arah flora dan fauna, seperti cicak, gajah, katak, daun-daunan, dan bunga-bungaan. Hingga saat ini tema flora dan fauna masih menjadi primadona pengrajin keramik di daerah ini.

Dalam melakukan pembinaan dan pelatihan keramik di Pejaten, Hester Tjebbes disponsori oleh sebuah yayasan Belanda HIVOS. Peserta pelatihan diberi fasilitas seperti materi pelatihan, bahan dan peralatan produksi, sewa tempat, fee peserta pelatihan, dan sebagainya. Tapi pada tahun 1992 proyek tersebut terhenti, karena ada masalah politis antara  pemerintah Indonesia dan Belanda. Meskipun demikian, waktu pelatihan selama 7 tahun sudah dirasakan cukup bagi sebagian pesertanya untuk bisa merintis sebuah workshop atau usaha keramik secara mandiri. Saat ini ada sekitar 5 perusahaan keramik bakaran tinggi yang masih eksis. Ada 2 perusahaan yang cukup besar, yaitu Tanteri Keramik yang diteruskan oleh anaknya yang bernama Oka Mahendra dan CV Keramik Pejaten yang  dimiliki oleh I Made Durya. Jumlah karyawannya antara 10 sampai 30 orang.

Sentra keramik Pejaten dikenal dengan produk utility-nya (aspek fungsi/kegunaan), seperti perangkat table top  yang terdiri dari teko set, piring, mangkok, tempat merica dan garam, asbak, vas bunga, aroma therapy, dsb. Teknik pembentukan yang umum dipakai adalah teknik putar dan teknik cetak (slip casting). Sementara itu untuk pengrajin gerabah hiasnya hanya tersisa beberapa orang saja. Ada salah satu yang merupakan tokoh pengrajin gerabah hias di desa Pejaten bernama Kuturan. Kebanyakan produk yang ia buat berupa hiasan taman/eksterior. Teknik pembentukan yang digunakannya adalah teknik handbuilding dan teknik cetak tekan (press molding). Pengrajin lainnya dengan alasan pasar, lebih memilih membuat genting dan bata untuk keperluan bahan bangunan daripada keramik hias. Khusus genting, peminatnya bahkan sampai ke luar negri, seperti Jepang dan beberapa negara eropa.  

Selain ke Pejaten saya berkunjung ke Gaya Keramik dan Tamin Keramik yang berada di Ubud, Gianyar. Gaya Keramik yang dikelola oleh orang  Italy dan Amerika ini memiliki kekhasan dalam produk raku-nya. Dikenal dengan istilah naked raku, dimana raku-nya  berbeda dari raku pada umumnya, baik jenis klasik (cara Jepang) ataupun western raku. Tidak ada karakter raku yang kehitaman atau berluster/berkilauan seperti hasil raku pada umumnya. Sedangkan Tamin adalah seorang keramikus otodidak asal Cimahi (Bandung) yang merantau ke Bali dan kemudian menetap di sana. Produknya begitu ke 'jepang-jepangan', baik bentuk ataupun glasirnya. Seringkali tempat workshopnya  menerima residensi seniman-seniman keramik baik dari dalam maupun luar negri.

Selain ke tempat-tempat di atas, saya pun berkunjung ke galeri kontemporer di sana, seperti Kendra Gallery  dan Biasa Gallery. Keduanya berada di daerah Seminyak, Kuta. Galeri tersebut banyak memamerkan seniman kontemporer Indonesia, baik seniman muda ataupun yang sudah senior.       

Thursday, January 16, 2014

My "New Kiln"




This is my "new kiln". After accompany me for 12 years, I recently have fixed my kiln. The ceramic fiber was already damaged, so the heat in the chamber was not effective anymore. Usually for one LPG (50 kilos) could be 4 times to fire high firing but recently become 3 times only. The sheet of steel was already rustic and make a hole especially on the roof of kiln. 

With that situation, I decide to fix my kiln. To make efficient firing I add one layer of ceramic fiber which before only 4 layers. The installing of ceramic fiber also changed to square which before it was an arch, so the capacity of wares in chamber increase. I wish the kiln less fuel and more effective either in firing or capacity of pieces.

The kiln use downdraft method and have 4 burners, two in the front (the door) and the rest in behind (the fire is made face to face). According to my experiences, the burner in that position (not from bottom) the most hot fire is in the bottom shelve, contrary with the bottom one. The kiln used 2 burners before, I experiment add two to wish the heat evenly and more efficient fuel.